Jumat, 05 Januari 2018

Fitrah Seksualitas (Tantangan Bunda Sayang Level 11 #day1)

Januari 05, 2018 0 Comments
Bismillah

Memiliki tiga orang anak balita yang jarak usianya tidak jauh gampang-gampang susah dalam mengajarkan fitrah seksualitasnya. Ketika sang kakak sudah paham, si adik justru masih belum mengerti apa-apa. Disinilah saya dan suami perlu banyak belajar tentang fitrah seksualitas sehingga kedepannya tidak terjadi masalah.

Oiya, sebelumnya saya kutipkan tulisan yang menarik dan sayang kalau tidak disimpan.

FITRAH SEKSUALITAS

By: Pak Harry Santosa

Punya suami yang kasar? Kaku?  Garing dan susah memahami perasaan istrinya? Tidak mesra dgn anak? Coba tanyakan, beliau pasti tak dekat dengan ibunya ketika masa anak sebelum aqilbaligh.

Punya suami yang "sangat tergantung" pada istrinya? Bingung membuat visi misi keluarga bahkan galau menjadi ayah? Coba tanyakan, beliau pasti tak dekat dengan ayahnya ketika masa anak. 

Kok sebegitunya? 

Ya! karena figur ayah dan ibu harus ada sepanjang masa mendidik anak anak sejak lahir sampai aqilbaligh, tentu agar fitrah seksualitas anak tumbuh indah paripurna.

Pendidikan fitrah seksualitas berbeda dengan pendidikan seks. Pendidikan fitrah seksualitas dimulai sejak bayi lahir.

Fitrah seksualitas adalah tentang bagaimana seseorang berfikir, merasa dan bersikap sesuai fitrahnya sebagai lelaki sejati atau sebagai perempuan sejati.

Menumbuhkan Fitrah ini banyak tergantung pada kehadiran dan kedekatan pada Ayah dan Ibu. 

Riset banyak membuktikan bahwa anak anak yang tercerabut dari orangtuanya pada usia dini baik karena perang, bencana alam, perceraian, dll akan banyak mengalami gangguan kejiwaan, sejak perasaan terasing (anxiety), perasaan kehilangan kelekatan atau attachment, sampai kepada depresi. Kelak ketika dewasa memiliki masalah sosial dan seksualitas seperti homoseksual, membenci perempuan, curiga pada hubungan dekat dsbnya.

Jadi dalam mendidik fitrah seksualitas, figur ayah ibu senantiasa harus hadir sejak lahir sampai AqilBaligh. Sedangkan dalam proses pendidikan berbasis fitrah, mendidik fitrah seksualitas ini memerlukan kedekatan yang berbeda beda untuk tiap tahap. 

Usia 0-2 tahun, anak lelaki dan perempuan didekatkan pada ibunya karena ada menyusui, di usia 3 - 6 tahun anak lelaki dan anak perempuan harus dekat dengan ayah ibunya agar memiliki keseimbangan emosional dan rasional apalagi anak sudah harus memastikan identitas seksualitasnya sejak usia 3 tahun. 

Kedekatan paralel ini membuat anak secara imaji mampu membedakan sosok lelaki dan perempuan, sehingga mereka secara alamiah paham menempatkan dirinya sesuai seksualitasnya, baik cara bicara, cara berpakaian maupun cara merasa, berfikir dan bertindak sebagai lelaki atau sebagai perempuan dengan jelas. Ego sentris mereka harus bertemu dengan identitas fitrah seksualitasnya, sehingga anak di usia 3 tahun dengan jelas mengatakan "saya perempuan" atau "saya lelaki"

Bila anak masih belum atau tidak jelas menyatakan identitas gender di usia ini (umumnya karena ketiadaan peran ayah ibu dalam mendidik) maka potensi awal homo seksual dan penyimpangan seksualitas lainnya sudah dimulai. 

Ketika usia 7 - 10 tahun, anak lelaki lebih didekatkan kepada ayah, karena di usia ini ego sentrisnya mereda bergeser ke sosio sentris, mereka sudah punya tanggungjawab moral, kemudian di saat yang sama ada perintah Sholat. 

Maka bagi para ayah, tuntun anak untuk memahami peran sosialnya, diantaranya adalah sholat berjamaah, berkomunikasi secara terbuka,  bermain dan bercengkrama akrab dengan ayah sebagai aspek pembelajaran untuk bersikap dan bersosial kelak, serta menghayati peran kelelakian dan peran keayahan di pentas sosial lainnya. 

Wahai para Ayah, jadikanlah lisan anda sakti dalam narasi kepemimpinan dan cinta, jadikanlah tangan anda  sakti dalam urusan kelelakian dan keayahan. Ayah harus jadi lelaki pertama yang dikenang anak anak lelakinya dalam peran seksualitas kelelakiannya. Ayah pula yang menjelaskan pada anak lelakinya tatacara mandi wajib dan konsekuensi memiliki sperma bagi seorang lelaki.

Begitupula anak perempuan didekatkan ke ibunya agar peran keperempuanan dan peran keibuannya bangkit. Maka wahai para ibu jadikanlah tangan anda sakti dalam merawat dan melayani, lalu jadikanlah kaki anda sakti dalam urusan keperempuanan dan keibuan. 

Ibu harus jadi wanita pertama hebat yang dikenang anak anak perempuannya dalam peran seksualitas keperempuanannya. Ibu pula orang pertama yang harus menjelaskan makna konsekuensi adanya rahim dan telur yang siap dibuahi bagi anak perempuan.

Jika sosok ayah ibu tidak hadir pada tahap ini, maka

inilah pertanda potensi homoseksual dan kerentanan penyimpangan seksual semakin menguat.

Lalu bagaimana dengan tahap selanjutnya, usia 10 - 14? Nah inilah tahap kritikal, usia dimana puncak fitrah seksualitas dimulai serius menuju peran untuk kedewasaan dan pernikahan.

Di tahap ini secara biologis, peran reproduksi dimunculkan oleh Allah SWT secara alamiah, anak lelaki mengalami mimpi basah dan anak perempuan mengalami menstruasi pada tahap ini. Secara syahwati, mereka sudah tertarik dengan lawan jenis. 

Maka agama yang lurus menganjurkan pemisahan kamar lelaki dan perempuan, serta memberikan warning keras apabila masih tidak mengenal Tuhan secara mendalam pada usia 10 tahun seperti meninggalkan sholat. Ini semua karena inilah masa terberat dalam kehidupan anak, yaitu masa transisi anak menuju kedewasaan termasuk menuju peran lelaki dewasa dan keayahan bagi anak lelaki, dan peran perempuan dewasa dan keibuan bagi anak perempuan.

Maka dalam pendidikan fitrah seksualitas, di tahap usia 10-14 tahun, anak lelaki didekatkan ke ibu, dan anak perempuan didekatkan ke ayah. Apa maknanya?

Anak lelaki didekatkan ke ibu agar seorang lelaki yang di masa balighnya sudah mengenal ketertarikan pada lawan jenis, maka di saat yang sama harus memahami secara empati langsung dari sosok wanita terdekatnya, yaitu ibunya, bagaimana lawan jenisnya harus diperhatikan, dipahami dan diperlakukan dari kacamata perempuan bukan kacamata lelaki. Bagi anak lelaki, ibunya harus menjadi sosok wanita ideal pertama baginya sekaligus tempat curhat baginya.

Anak lelaki yang tidak dekat dengan ibunya di tahap ini, tidak akan pernah memahami bagaimana memahami perasaan, fikiran dan pensikapan perempuan dan kelak juga istrinya. Tanpa ini, anak lelaki akan menjadi lelaki yg tdk dewasa, atau suami yang kasar, egois dsbnya.

Pada tahap ini, anak perempuan didekatkan ke ayah agar seorang perempuan yang di masa balighnya sudah mengenal ketertarikan pada lawan jenis, maka disaat yang sama harus memahami secara empati langsung dari sosok lelaki terdekatnya, yaitu ayahnya, bagaimana lelaki harus diperhatikan, dipahami dan diperlakukan dari kacamata lelaki bukan kacamata perempuan. Bagi anak perempuan, ayahnya harus menjadi sosok lelaki ideal pertama baginya sekaligus tempat curhat baginya.

Anak perempuan yang tidak dekat ayahnya di tahap ini, kelak berpeluang besar menyerahkan tubuh dan kehormatannya pada lelaki yang dianggap dapat menggantikan sosok ayahnya yang hilang dimasa sebelumnya.

Semoga kita dapat merenungi mendalam dan menerapkannya dalam pendidikan fitrah seksualitas anak anak kita, agar anak anak lelaki kita tumbuh menjadi lelaki dan ayah sejati, dan agar anak anak perempuan kita tumbuh menjadi perempuan dan ibu sejati.

Agar para propagandis homo seksualitas tidak lebih pandai menyimpangkan fitrah seksualitas anak anak kita daripada kepandaian kita menumbuhkan fitrah seksualitas anak anak kita. Agar ahli kebathilan gigit jari berputus asa, karena kita lebih ahli dan berdaya mendidik fitrah anak anak kita.

Salam Pendidikan Peradaban 

#pendidikanberbasisfitrah dan akhlak


Dari tulisan di atas, betdasarkan kategori usia anak, anak kami fasenya harus dekat kepada kami sehingga mereka lebih mengenal lagi perbedaan mereka secara seksual. Alhamdulillah Asyraf sudah paham. Namun fadhil masih belum tertanam secara mendalam tentang fitrah seksualitasnya.


#Tantangan10Hari
#Level11
#KulianBunsayIIP
#MembangunFitahSeksualitasAnak




Jumat, 15 Desember 2017

KISAH MASA LALU (Tantangan Bunda Sayang Level 10)

Desember 15, 2017 0 Comments
Bismillah..

Disaat anak-anak doyan main hp disitu tandanya dia butuh diajak ngobrol banyak. Tak perlu berat-berat ngobtolnya,santai saja, tentang apa yang dia rasakan, dia inginkan, dia sukai dan tidak.

Saya mulai dengan cerita tentang masa kecil saya yang sering berkunjung ke rumah mbah buyut di desa. Ketika bertemu dengan alm. Mbah buyut saya selalu minta diceritakan sebuah dongeng. Walaupun sebenarnya saya sudah sering membaca dongeng yang diceritakan mbah, namun dengan mendengarkan mbah mendongeng ada keseruan yang lain, seolah-oleh saya sedang masuk ke dalam cerita mbah tersebut.

Pernah dengar tentang cerita nyolong timun? Sederhan sebenarnya. Tapi fabel ini bisa menyihir anak-anak untuk berperilaku jujur, tidak curang, dan cerdik. Perlahan-lahan saya membawa anak-anak memasuki adegan dimana kancil memulai strateginya untuk berbuat curang hingga akhirnya dia tertangkap karna perbuatannya. Alhamdulillah anak-anak suka...


#Tantangan10Hari
#Level10
#KuliahBunsayIIP
#GrabYourImagination


Minggu, 03 Desember 2017

MENDONGENG (Tantangan Bunda Sayang Level 10 #day3)

Desember 03, 2017 0 Comments
Bismillah...

Alhamdulillah kerjaan udah selesai jadi bisa menemani anak-anak main-main lagi Awalnya Asyraf dan adiknya mau main gadget kemudian saya larang. Sempat saya adu mulut dan berebut gadgetnya supaya jangan main gadget. Saya katakan kepadanya kalau umi pengen main dengannya. Saya ajak dia untuk bermain. Akhirnya dia lepas gadget.

Ternyata, niat hati ingin bercerita tapi dia yang malah bercerita. Dia menceritakan apa yang dilihatnya di youtube. Dia melihat power ranger yang bertransformasi menjadi dino combine. Yang kepalanya, badannya, ekornya, merupakan perpaduan dari berbagai jenis dinosaurus (uminya gak hafal dinosaurus apa saja). Kemudian dia bercerita kalau bisa berubah jadi power ranger harus punya pistol. Nnati bisa berubah dari kepala, badan, sampai kaki memakai topeng.

Owalah.. MasyaAllah... Alhamdulillah dapat hiburan gratis dikala lelah.



#Tantangan10Hari
#Level10
#KuliahBunsayIIP
#GrabYourImagination

MATA (Tantangan Bunda Sayang Level 10 #day2)

Desember 03, 2017 0 Comments
Bismillah..

Ketika pekerjaan menumpuk, tak bisa membersamai anak-anak, dan anak-anak tiba-tiba doyan main gadget, disitu saya merasa sedih.

Kok tumben sih main gadget terus?? Sampai-sampai rebutan dan meminta paksa untuk meminkan gadget saya. :(

Mulailah saya bercerita tentang negatifnya bermain gadget ke anak-anak, salah satunya adalah mata yang rusak. Saya menceritakan tentang mata kelinci yang tajam karena dia suka makan wortel, tentang mata kucing yang bisa bersinar di malam hari, dan akibatnya mata kita jika kebanyakan bermain gadget. "Kan kata Asyraf kalau main hp terus matanya bisa lepas..", kata saya mengingatkan kembali ucapannya.

Tapi namanya anak-anak berlarian ketika saya terus berbicara. :(

Semoga bisa nemu solusinya.




#Tantangan10Hari
#Level10
#KuliahBunsayIIP
#GrabYourImagination

Kamis, 30 November 2017

MBUJUK (Tantangan Bunda Sayang Level 10 #day1)

November 30, 2017 0 Comments
Bismillah...

"mi...mi...ading e*k...", terik Asyraf kepada saya. Dia bilang kalau adiknya bab padahal saya tahu kalau tidak dan dia berbohong. Entah dari mana dia mengenal istilah bohong dan mempraktekkannya, yang jelas membuat saya terganggu. kadang dia berkata, "tak bujuki (saya bohongi)" dan ketika saya tanya dari mana bisa ngomong seperti itu dia menjawab dari temannya di sekolah.

Mau marah rasanya lelah dan gak akan didengar juga. Akhirnya saya panggil dia dengan halus dan mendudukkannya di samping saya sambil saya sedikit bercerita. Saya ingatkan kembali akan cerita Upin dan Ipin, yaitu JArjit si Penggembala yang kehilangan dombanya karena berbohong.

Saya   : "Asyraf, sini deh...Umi mau bilang.."
Asyraf: " Gak..nanti Umi marah..."
Saya   : "Enggak... Umi cuma mau bilang kalau bohong itu tak boleh, bukan hal baik. Asyraf ingat gak cerita tentang Jarjit yang memiliki 3 domba? Jarjit berpura-pura ada serigala dan berteriak di depan masyarakat desa. Awalnya masyarakat desa percaya, namun setelah Jarjit tertawa bahwa dia menipu mereka akhirnya masyarakat desa kecewa. Hal itu dilakukan lagi. Hingga masyarakat desa benar-benar tak percaya lagi. Suatu saat, serigala itu datang sungguhan ingin memangsa si domba. Kemudian Jarjit berteriak meminta tolong ke warga. Karena yang lalu Jarjit menipu, akhirnya masyarakat desa tak mau membantu dan sidombapun dimakan satu persatu. Dan jarjit pun menyesal, dia tak mau bohong lagi, supaya dia kembali dipercaya"

Demikian cerita saya yang singkat asalakan dia mendengar. Semoga tidak ada lagi kata mbujuki.



#Tantangan10Hari
#Level10
#KuliahBunsayIIP
#GrabYourImagination


Sabtu, 25 November 2017

JULID

November 25, 2017 0 Comments
Bismillah...

Sering dengar kata JULID? Yes, julid itu mungkin bisa diartikan komentar yang tanpa dasar diberikan kepada sesorang yang mungkin kurang disukai. Ibu-ibu pun kadang suka julid kepada sesawa kawan sejawatnya. Atau antar adik kakak pun demikian.

Julid kalau menurut saya itu konotasi dari kritik positif. Mungkin maunya orang yang di"julid"i lebih baik lagi tapi dengan bahasa yang tidak enak dan di muka umum.

Sebenarnya kritik-mengkritik itu sah-sah saja, tapi pasti ada adabnya. Mungkin bagi yang mengkritik enak saja dan mengalir begitu saja, tapi untuk yang dikritik perlu mempersiapkan hati untuk mendengarkannya dan memperbaiki.

Saya pernah mendapatkan omongan tidak menyenangkan dari kakak ipar tentang pakaian saya. Entah gimana awalnya, dia bilang kalau saya pakai pakaian hitam seperti teroris. Mana jilbabnya lebar, pakai gamis pula. Astaghfirulloh... Ngelus dada sebenarnya. Untuk saya cuman bisa senyum. Ingin saya utarakan mengapa saya suka memakai pakaian hitam, tapi untuk apa. Kalaupun dia tabayyun dulu mungkin saya akan bilang bahwa alasan saya memakai pakaian hitam karena saya suka warna hitam dan untuk kamuflase supaya tidak terlihat gemuk. Hehehehe...

Oke, dari kejadian-kejadian yang saya alami dan saya amati, sebnarnya julid tak perlu terjadi. Karena julida itu kritik dengan cara negatif, maka akan kita ubah menjadi kritik positif. Adab mengkritik:

  1. Sebelum mengkritik alangkah baiknya tabayyun terlebih dahulu. Apakah perbuatan yang dilakukan tersebut memang benar dilakukan dan dimaksudnya demikian. Kalau itu tidak, berarti berita yang tersiar bisa menjadi fitnah.
  2. Lakukan kritik dengan sembunyi-sembunyi. Maksudnya jangan di muka umum. Karena siapa tahu kritik yang kita utarakan itu berhubungan dengan aibnya dan kita sendiri pun wajib menjaga aib saudara kita.
  3. Lakukan dengan bahasa yang halus, tanpa menghakimi. Mungkin bisa diawalai dengan pujian terlebih dahulu baru inti kritiknya.



Kreatif Itu... (Aliran Rasa Kelas Bunda Sayang Level 9)

November 25, 2017 0 Comments
Bismillah...

Dalam tantangan ini saya belajar dari anak-anak bahwa keterbatasan yang kita miliki bukan berarti kita bersedih dan tak bisa berkrasi. Dengan mainan yang saya sendiri tidak terlalu banyak membelikan, bahkan hanya membelikan lego, mereka bisa berkreasi. Jika mereka ingin punya mainan dinosaurus, tak perlu membeli, cukup berkreasi dengan lego yang ada. Demikian juga dengan bermain angka. Tak perlu membeli mainan khusus belajar angka, dari kardus susu dan lembaran kertas pun sudah bisa belajar mengurutkan angka.

Demikian dengan ibu. Keterbatasan bukan berarti bersedih hati, bukan berarti tak bisa banyak memberi, bukan berarti miskin cinta kasih. Keterbatasan waktu bukan berarti tidak bisa membersamai, tetapi dorongan untuk kreatif menyusun aktivitas sehari-hari. Keterbatasan materi bukan berati anak diberi makan apa adanya, tanpa harus berupaya, melainkan kreatif memanfaatkan bahan yang ada menjadi sesuatu yang sehat dan lezat.

Dari sini saya belajar, tentang kreativitas dan keterbatasan. Keterbatasan bukan menjadi penghalang untuk memberikan yang terbaik, tapi sebagai media tuk mendongkrak kreativitas agar semakin naik.

#aliran rasa
#Level9
#KuliahBunsayIIP
#Thinkcreative

Follow Us @lailie.anwar