Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan

Senin, 17 Juli 2017

Mainan Mentah dan Mainan Jadi

Juli 17, 2017 0 Comments
Bismillah...

Alhamdulillah wa syukurillah...
Allah masih memberikan saya waktu untuk membersamai anak-anak. Disaat saya sepi job menggambar, saya tak merasa miskin karena tak ada pemasukan, justru saya merasa kaya karena bisa bersama anak-anak, seutuhnya memiliki mereka.

Beberapa waktu membersamai mereka, ada banyak hal yang saya pelajari dan saya aamati dari mereka, diantaranya adalah tentang mainan mereka.

Benar kata bu Elly Risman, bahwa sebaiknya memberikan mereka mainan "mentah" dari pada mainan jadi. Maksudnya memberikan mereka sesuatu di sekitar kita yang bisa digunakan oleh mereka untuk berimajinasi menjadi sebuah mainan jadi versi mereka. Yup... Dengan memberikan benda-benda di sekitar kita sebagai mainan mereka membuat daya imajinasi mereka semakin tak terbatas.

Akhirnya saya paham kenapa setiap kali saya membelikan mainan jadi entah itu berupa mobil-mobilan, robot, atau apapun itu pasti dibongkar pasang oleh anak-anak hingga bentuknya tak beraturan. Hal ini kemungkinan anak-anak ingin mengeksplorasi imajinasinya dan menuangkannya dalam bentuk mainan yang ingin dia buat.

Oleh karena itu saya enggan membelikan mereka berupa mainan jadi, lebih suka membelikan mereka mainan mentah seperti lego, puzzle, dan sejenisnya sehingga bisa mengeksplor imajinasi mereke. dari satu paket lego mereka bisa membuat berbagai macam bentuk, mulai dari mobil, bus, kereta, truk, hingga jerapah ataupun gajah.

Oiya, saya mendapat ilmu baru lagi, nih bahwa dengan bermain lego dan puzzle membantu anak dalam menstimulasi matematika logisnya yaitu berupa pengenalan warna dengan mengelompokkannya dan belajar mulai berhitung dengan sederhana.

oke, sekian dulu curhatan saya, selamat beraktifitas kembali.

Rabu, 05 Juli 2017

Rumah, Sekolah, dan Pendidikan

Juli 05, 2017 0 Comments
🏡RUMAH, SEKOLAH dan PENDIDIKAN🏡

oleh : Septi Peni Wulandani

Usai Libur lebaran, ternyata tidak membuat redup semangat para Fasilitator Nasional Ibu Profesional untuk kembali belajar, belajar dan belajar.

Saat diskusi dengan para Ibu  Profesional di kelas fasilitator nasional Bunda Sayang #1, salah satu topik yang kami bahas adalah mengapa saat ini banyak orang yang berpendidikan tinggi, tetapi perilaku ilmiahnya rendah. Seperti mudah sekali mempercayai berita hoax, menyebar ujaran kebencian, melakukan plagiasi tulisan/hasil karya orang lain, mudah sekali menyebar broadcast yang diawali dengan kalimat "copas dari grup sebelah" tanpa melihat kebenaran isi suatu berita dan tidak tahu sumbernya dari mana.

Salah satu kesimpulan yang kami ambil saat diskusi tersebut adalah ternyata antara  pendidikan dengan  institusi sakralnya yaitu sekolah atau rumah sedang berpisah ranjang. Tidak banyak sekolah yang menerapkan proses pendidikan yang benar di dalamnya, hanya sekedar menggugurkan kewajiban untuk mengejar kurikulum dan mengajar siswanya sesuai jam yang sudah ditentukan. Demikian juga tidak banyak  rumah yang melakukan proses pendidikan untuk seluruh anggota keluarganya.  Rumah tidak beda fungsinya dengan sebuah halte,  hanyalah sekedar bentuk fisik tempat seluruh penghuninya kumpul dan setelah itu pergi sesuai tujuan masing-masing.

Lalu kemana anak-anak kita mendapatkan proses pendidikan? kalau dua institusi sakral yaitu rumah dan sekolah, yang harusnya mendidik mereka ternyata tidak menjalankan perannya dengan benar.

Tidak perlu menunggu sebuah sistem untuk berubah, kita bisa memulainya dari diri kita dan keluarga kita.

Ingat,

" for Things to CHANGE, I must CHANGE FIRST "

Darimana mulainya? dari hal sederhana saja yaitu rangsang rasa ingin tahu anak dan  latihlah anak-anak membuat pertanyaan, karena selama ini yang ada di sebagian besar sekolah dan rumah, banyak anak-anak yang dilatih untuk menjawab pertanyaan.

" Mendidik itu bukan membuat anak bisa menjawab 1000 pertanyaan yang sudah diketahui jawabannya, namun membuat anak bertanya 1 pertanyaan yang membawanya menemukan 1000 pengetahuan "


Selasa, 25 April 2017

Ceklis dan Parameter Tumbuh Kembang Anak

April 25, 2017 0 Comments
Bismillah...

Kali ini saya akan sharing beberapa file tentang parameter tubuh kembang anak dan checklistnya. File ini saya dapatkan dari rumahinspirasi.com dan acuannya dari Pusat Kurikulum Diknas 2007.

Berikut ini linknya...
Parameter 0-6 bulan
https://drive.google.com/open?id=0B89WtyGjCDmwMHJaZF9rcTdpR00
Parameter 6-12 bulan
https://drive.google.com/open?id=0B89WtyGjCDmwZ1c3WncyZS01anM
Parameter 1-2 tahun
https://drive.google.com/open?id=0B89WtyGjCDmwY1p5RTlVOUJ2ejQ
Parameter 2-3 tahun
https://drive.google.com/open?id=0B89WtyGjCDmwMzR0UUVfZ1QwR2c
Parameter 3-4 tahun
https://drive.google.com/open?id=0B89WtyGjCDmwWGx0dVJ2UU1scVE
Parameter 4-5 tahun
https://drive.google.com/open?id=0B89WtyGjCDmwdHJfYUV5ZTZKY2c

Checklist 0-1
https://drive.google.com/open?id=0B89WtyGjCDmwWU9RUXJYTlFzWEU
Checklist 1-2
https://drive.google.com/open?id=0B89WtyGjCDmwZTdVSVVzbUE0VVU
Checklist 2-3
https://drive.google.com/open?id=0B89WtyGjCDmwdU5VZ3BPc3BNQ2c
Checklist 3-4
https://drive.google.com/open?id=0B89WtyGjCDmwQ2YtNlUzdl9hWlU
Checklist 4-5
https://drive.google.com/open?id=0B89WtyGjCDmwekI3SGVFdFIxTU0
Checklist 5-6
https://drive.google.com/open?id=0B89WtyGjCDmwRDRXU3JFOU5uM2c

Semoga bermanfaat 😊

Senin, 24 April 2017

Cara Belajar Anak

April 24, 2017 0 Comments
Bismillah...

Kali ini ingin membahas tentang gaya belajar anak yang terkadang adanya ketidaksesuaian antara gaya belajar anak di sekolah dengan gaya belajarnya sendiri. Perbedaan ini dapat mengakibatkan anak kurang paham atau tidak mengerti apa yang disampaikan oleh guru atau bahkan orang tua.Seperti yang kita kenal, gaya belajar anak terdiri dari 3 tipe: VISUAL, AUDITORI, dan KINESTETIK. Dikutip dari belajarpsikologi.com, pengertian masing-masing gaya belajar antara lain:

 1.   VISUAL (Visual Learners)

Gaya Belajar Visual (Visual Learners) menitikberatkan pada ketajaman penglihatan. Artinya, bukti-bukti konkret harus diperlihatkan terlebih dahulu agar mereka paham Gaya belajar seperti ini mengandalkan penglihatan atau melihat dulu buktinya untuk kemudian bisa mempercayainya. Ada beberapa karakteristik yang khas bagai orang-orang yang menyukai gaya belajar visual ini. Pertama adalah kebutuhan melihat sesuatu (informasi/pelajaran) secara visual untuk mengetahuinya atau memahaminya, kedua memiliki kepekaan yang kuat terhadap warna, ketiga memiliki pemahaman yang cukup terhadap masalah artistik, keempat memiliki kesulitan dalam berdialog secara langsung, kelima terlalu reaktif terhadap suara, keenam sulit mengikuti anjuran secara lisan, ketujuh seringkali salah menginterpretasikan kata atau ucapan.
Ciri-ciri gaya belajar visual ini yaitu :
  1. Cenderung melihat sikap, gerakan, dan bibir guru yang sedang mengajar
  2. Bukan pendengar yang baik saat berkomunikasi
  3. Saat mendapat petunjuk untuk melakukan sesuatu, biasanya akan melihat teman-teman lainnya baru kemudian dia sendiri yang bertindak
  4. Tak suka bicara didepan kelompok dan tak suka pula mendengarkan orang lain. Terlihat pasif dalam kegiatan diskusi.
  5. Kurang mampu mengingat informasi yang diberikan secara lisan
  6. Lebih suka peragaan daripada penjelasan lisan
  7. Dapat duduk tenang ditengah situasi yang rebut dan ramai tanpa terganggu


 2.     AUDITORI (Auditory Learners )
Gaya belajar Auditori (Auditory Learners) mengandalkan pada pendengaran untuk bisa memahami dan mengingatnya. Karakteristik model belajar seperti ini benar-benar menempatkan pendengaran sebagai alat utama menyerap informasi atau pengetahuan. Artinya, kita harus mendengar, baru kemudian kita bisa mengingat dan memahami informasi itu. Karakter pertama orang yang memiliki gaya belajar ini adalah semua informasi hanya bisa diserap melalui pendengaran, kedua memiliki kesulitan untuk menyerap informasi dalam bentuk tulisan secara langsung, ketiga memiliki kesulitan menulis ataupun membaca.
Ciri-ciri gaya belajar Auditori yaitu :
  1. Mampu mengingat dengan baik penjelasan guru di depan kelas, atau materi yang didiskusikan dalam kelompok/ kelas
  2. Pendengar ulung: anak mudah menguasai materi iklan/ lagu di televise/ radio
  3. Cenderung banyak omong
  4. Tak suka membaca dan umumnya memang bukan pembaca yang baik karena kurang dapat mengingat dengan baik apa yang baru saja dibacanya
  5. Kurang cakap dalm mengerjakan tugas mengarang/ menulis
  6. Senang berdiskusi dan berkomunikasi dengan orang lain
  7. Kurang tertarik memperhatikan hal-hal baru dilingkungan sekitarnya, seperti hadirnya  anak baru, adanya papan pengumuman di pojok kelas, dll


 3.  KINESTETIK (Kinesthetic Learners)
Gaya belajar Kinestetik (Kinesthetic Learners) mengharuskan individu yang bersangkutan menyentuh sesuatu yang memberikan informasi tertentu agar ia bisa mengingatnya. Tentu saja ada beberapa karakteristik model belajar seperti ini yang tak semua orang bisa melakukannya. Karakter pertama adalah menempatkan tangan sebagai alat penerima informasi utama agar bisa terus mengingatnya. Hanya dengan memegangnya saja, seseorang yang memiliki gaya  ini bisa menyerap informasi tanpa harus membaca penjelasannya.
Ciri-ciri gaya belajar Kinestetik yaitu :
  1. Menyentuh segala sesuatu yang dijumapinya, termasuk saat belajar
  2. Sulit berdiam diri atau duduk manis, selalu ingin bergerak
  3. Mengerjakan segala sesuatu yang memungkinkan tangannya aktif. Contoh: saat guru menerangkan pelajaran, dia mendengarkan sambil tangannya asyik menggambar
  4. Suka menggunakan objek nyata sebagai alat bantu belajar
  5. Sulit menguasai hal-hal abstrak seperti peta, symbol dan lambing
  6. Menyukai praktek/ percobaan
  7. Menyukai permainan dan aktivitas fisik
Demikianlah macam-macam gaya belajar mudah-mudahan dapat menjadi bahan acuan kita untuk menentukan cara belajar yang baik dan pas untuk kita sehingga mampu menyerap pelajaran dengan baik. Nah sekarang mana gaya belajar anda atau anak anda?

Follow Us @lailie.anwar